Rabu, 24 November 2010

ISLAM PHOBIA

TERORIS: HANYA PERMAINAN STIGMA
Kata teroris sebenarnya sudah digunakan sejak dulu, hanya saja penggunaannya tidak sepopuler sekarang. Apalagi sejak insiden 11 September, kata teroris menjadi booming di kalangan elite penguasa untuk menyebut kelompok tertentu. Sebut saja peristiwa pengeboman di Thailand, Philipina, Legian Bali, dan yang paling gres adalah di KEDEUBES Australia di Indonesia disebut-sebut sebagai tindakan-tindakan brutal para teroris, yang pada dasarnya menunjuk pada jama’ah-jama’ah Islam. Sekalipun pelakunya belum ditemukan, sudah pasti dapat diperkirakan siapa yang menjadi tersangka utama. Siapa lagi kalo bukan kelompok jama’ah Islam.

STIGMA: DAMPAK NARCISISME
Narcisisme, seperti yang diungkapkan oleh Max Dimont seorang sejarawan Yahudi Liberal adalah penyakit mengagumi diri sendiri dan tidak mempunyai kesediaan untuk mengakui bahwa peradabannya merupakan sumbangan dari peradaban yang ada sebelumnya. Narcisisme inilah yang mendorong Barat untuk memandang Islam (dan peradaban lain di luar Barat) secara negative. Apalagi, penyakit narcisisme ini diperkuat adanya legitimasi Judeo-Christian yang menganggap agama lain tak layak hidup di muka bumi.

Dalam buku Demonologi Islam, dikatakan bahwa salah satu upaya musuh Islam untuk membasmi kekuatan Islam adalah dengan cara yang disebut Teori Penjulukan (Labeling Teory), yakni member julukan-julukan negative terhadap umat Islam. Penjulukan negative ini pun telah digencarkan oleh musuh-musuh Islam sejak dulu kala.

Orang Yahudi memandang Islam sebagai gentile, yang secara etimologis berarti orang asing, tetapi lebih sering dimaknai sebagai orang tak beradab. Demikian juga dalam perang salib, orang-orang Kristen menyebut tentara Islam dengan sebutan seracen yang mempunyai makna sama dengan gentile. Disamping itu, banyak karya terkenal sarjana Eropa Pertengahan yang disusun untuk mendiskreditkan Islam, misalnya Summa Contra Gentiles karya St. Thomas Aquinas (yang sedihnya lagi karya ini sering digunakan sebagai bahan rujukan oleh sarjana-sarjana Islam Kontemporer). Dalam buku ini, Aquinas menyebut Muhammad sebagai pengkhianatpara sahabatnya dan disebut sebagai ‘orang2 dgn sifat kebinatangan (bestiales) yg tinggal di gurun pasir’. Karya lain yang paling keras yaitu Disputation Againts the Sacaren and the Qur’an (Penolakan atas kaum Sararen dan Al-Qur’an) yang ditulis oleh Ricaldo de Monte Croce, yang lebih dikenal dengan judul Improbatio Alchorani.

Dari banyaknya stigma dan cap-cap yang diberikan Barat pada Islam, yang paling dominan adalah stigma Islam sebagai agama militant, yang dianggap disebarkan melalui pertumpahan darah. Walaupun pada faktanya, sejarah menulis bahwa: perang salib justru dimulai oleh pidato Paus Urbanus II di Clermont (1095) yang membakar imajinasi orang Kristen tentang gagasan “Perang Suci” untuk mensterilkan dunia dari orang-orang gentiles, sekaligus prospek penemuan kembali Yerussalem sebagai tempat ziarah.

Inilah yang sedang digencarkan oleh Barat pada dunia, yaitu stigma Islam sebagai agama radikal, fundamentalis, ekstrimis, primordial, sectarian dan fanatic. Hal ini tidak lain bertujuan untuk membentuk suatu sindrom Islam phobia (ketakutan terhadap Islam).

Naom Chomsky menyebut permainan stigma Barat ini sebagai “newspeak”, yang meminjam istilah George Orwell. Barat, lewat kekuatan media, menciptakan newspeak untuk berusaha membatasi pandangan kita tentang realitas dan  fakta. Sehingga apa yang muncul di media dan menjadi opini di tengah-tengah masyarakat dunia adalah hal yang bertentangan dengan yang sebenarnya terjadi. Chomsky mencatat bahwa seluruh kebijakan luar negeri Barat, terutama campur tangan AS di kawasan dunia termasuk Indonesia, sudah dikendalikan dalam sebuah system cuci otak yang sangat LUAR BIASA canggih!!

Kini, seperti yang kita tahu, kata teroris telah mengalami pelecehan makna terhadap makna asalnya. Teroris ; orang yang melakukan tindkan terror, mengacau, membuat lingkungan sekitar terancam, dan merugikan pihak lain. Intinya, siapapun itu, apabila melakukan tindakan terror maka akan disebut teroris. Namun, kata teroris kini secara tidak langsung hanya diperuntukkan bagi kelompok Islam fundamentalis, yang selalu dikait-kaitkan dengan tindakan pengeboman,sebagai contoh jaringan Al-Qaedah yang walaupun pada faktanya sampai sekarang bukti keberadaan jaringan tersebut tidak pernah bisa ditunjukkkan. Tetapi jika yang melakukannya adalah orang-orang kapitalis, cap teroris ini berubah menjadi “hero”.

Sebagai contoh, Editorial New York Times, edisi 28 desember 1985 menulis artikel berkenaan dengan penyerbuan AS ke Libya yang menewaskan 100 orang dengan judul “To Save the Next Natasha Simpson” (Menyelamatkan Natasha Simpson Berikutnya), yang dirujuk adalah gadis Amerika berusia 11 tahun yang menjadi salah satu korban serangan teroris di bandara-bandara Roma dan Wina pada 27 Desember 1985. Para editor harian ini menulis, “korban-korban ini memberi hak pada kita untuk membom kota-kota Libya demi membuat gentar terorisme yang didukung Negara”. Ternyata empat bulan kemudian, Menteri Dalam Negeri Austria menegaskan, tidak ada bukti sedikitpun untuk menuduh Libya atas serangan pengeboman itu.

Beberapa contoh lain adalah kasus pembelaan Amerika pada tindakan Israel yang menangkap 1200 orang kaum Syiah Lebanon Selatan pada saat invasi militer tahun 1983. Amerika menyebut penyanderaan ini sebagai “upaya pencegahan terorisme”. Dan yang menjadi tragedy kemanusiaan terbesar abad ke-20 adalah pembantaian 40 jam berturut-turut  oleh militer Israel di kamp pengungsi Sabra-Shatilla, Lebanon, pada 16-18 September 1982 yang merenggut nyawa 3000 orang pengungsi. Diplomat Barat menyebut tindakan ini sebagai “tindakan pembalasan” dan tindakan mendahului terhadap teroris”.

Pada dasarnya tujuan Barat gencar menyusupkan stigma-stigma negative terhadap Islam tidak lain untuk menghambat pertumbuhan “Islam politik" yang meminjam istilah John Esposito yaitu kaum Muslim yang memandang Islam tidak hanya sebagai agama ritual belaka, tapi juga sebagai ideologi alternative yang akan menggantikan ideology-ideologi lain seperti kapitalisme dan sosialisme. Islam politik inilah yang pertumbuhannya selalu ditakut-takuti oleh Barat karena Barat tau jika seluruh kaum Muslim adalah penganut Islam Politik maka keberadaan kapitalisme dan sosialisme hanya akan tinggal nama dan berganti dengan Ideologi Islam. Hebatnya lagi, Islam Politik inilah yang pada dasarnya mereka sebut sebagai teroris.
Siapapun tau siapa teroris sesungguhnya yang layak disebut sebagai teroris dalam arti sebenarnya. AS, yang mengatasnamakan HAM untuk menginvasi Irak (menyelamatkan dunia dari senjata pemusnah missal; yang keberadaannya tak pernah bisa dibuktikan). AS yang mempunyai kedudukan sebagai polisi dunia, kini telah berpindah pangkat sebagai penjahat internasional sejati, pelanggar HAM terbesar sepanjang zaman dan terorisme dalam arti sebenarnya.

sumber: majalah Open Mind

Waspadai keberadaan Namru 2

Dalam pekan-pekan terakhir ini kita tengah menunggu keputusan pemerintah mengenai status unit penelitian medis Angkatan Laut AS, Naval Medical Research Unit 2 (Namru 2). Akankah pemerintah Indonesia mampu bersikap tegas dan menunjukan kemandiriannya sebagai negara yang berdaulat?
Namru 2 dibuka pada 16 Januari 1970 berdasarkan MoU (kontrak kerjasama) yang di tandatangani oleh Menkes RI saat itu, G.A. Siwabessy dengan Dubes AS saat itu, Francis Galbraith. MoU itulah yang dijadikan landasan hukum bagi Namru 2 tetap berada di Indonesia sekalipun tidak ada lagi wabah penyakit menular dan Indonesia tidak lagi membutuhkan bantuannya. MoU dinyatakan bisa diperbaharui setiap 10 tahun namun semenjak tahun 2000 MoU tsb tidak lagi diperbaharui (diperpanjang). Kejasama itu kini hanya menggunakan nota diplomatik.

Untuk perannya selama ini, Namru 2 diberi banyak kelonggaran termasuk kekebalan diplomatik untuk stafnya guna memasuki seluruh wilayah Indonesia. Padahal Namru 2 bukan bagian dari kegiatan diplomasi dan tidak melakukan aktivitas diplomasi. Karena itu sangat beralasan jika banyak pihak menilai Namru 2 juga melakukan kegiatan intelijen. Tentu saja bukan menginteli orang melainkan mengumpulkan data dan informasi tentang penyakit, terutama penyakit menular dan berbahaya, yang sangat penting bagi AS, khususnya militernya. Dengan itu tentu mudah bagi Namru 2 untuk mendapatkan peta penyakit di Indonesia dan informasi terkait. Dengan itu pula, spesimen virus dan penyakit menular berbahaya yang ada di Indonesia sudah mereka dapatkan. Selanjutnya spesimen diapakan? Kemungkinan dimanfaatkan untuk kepentingan senjata biologis.

Sekarang masalahnya ada di tangan Presiden. Tentu dengan segenap alasan dan fakta yang ada, seharusnya pemerintah (Presiden) tidak perlu ragu untuk segera menghentikan keberadaan Namru 2. Tinggal kita lihat saja buktinya.

Berbagai alasan yang masuk akal dan fakta yang ada seharusnya menguatkan penolakan terhadap keberadaan Namru 2. Lebih dari itu, penghentian Namru 2 juga sesuai dengan amanat Allah Swt. :
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil teman kepercayaan kalian orang-orang yang diluar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan terhadap kalian. Mereka menyukai apa saja yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi." [QS. Ali Imran (3) : 118]

Islam Bangkit, Indonesia Bersatu !!!

Sungguh menyedihkan nasib negeri ini yang semakin hari semakin "panas", membuat gerah orang-orang yang berada di dalamnya. Setelah terjadi kerusuhan-kerusuhan akibat tidak tegasnya Pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan bahwa Ahmadiyah merupakan aliran sesat kini masalah bertambah dengan naiknya harga BBM dan di sela-sela itu tengah hangat dibicarakan bentrokan antara FPI dan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Dan ternyata semua kondisi tsb saling berkaitan.

Pada tanggal 1 Juni 2008 siang berlangsung demo penolakan BBM di depan Istana Negara yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan dihadiri oleh berbagai ormas. Acara tsb berlangsung damai sebagaimana dimuat berbagai media massa. Disaat bersamaan di Lapangan Monas tengah terjadi aksi ricuh anntara FPI dan AKKBB. Berbagai kecaman pun bermunculan mulai dari Presiden, politisi, tokoh masyarakat hingga selebritis. Reaksi tsb muncul akibat pemberitaan tentang aksi kekerasan yang terjadi. Lalu mengapa sikap anarkis ini bisa terjadi? Tentu tak akan ada asap jika tak ada api.

Jika kita mau menganalisis lebih jauh, mungkin kita akan menemukan beberapa hal dari kasus bentrokan antara FPI dan AKKBB, diantaranya yaitu:
Pertama: Pengalihan isu. Semula isu yang dominan adalah tuntutan kenaikan BBM dan pembubaran Ahmadiyah. Kini, isu bergeser menjadi isu pembubaran ormas Islam tertentu. Dimana Islam selalu tersudutkan. Dimana ada Islam di situ pasti ada kekerasan.
Kedua: Stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar dan opini media massa digambarkan betapa buruknya wajah kaum Muslimin yang sebenarnya ingin membela kemurnian aqidahnya. KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, menyatakan, "Sebenarnya, masalah Ahmadiyah bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, tetapi masalah penodaan agama tertentu dalam hal ini adalah Islam.
Ketiga: Menghancurkan organisasi Islam yang memperjuangkan syariat Islam. Lihatlah, pasca Insiden Monas, Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut pembubaran beberapa ormas Islam yang tidak terkait sama sekali dengan insiden tsb. Bahkan mereka mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan permohonan ke pengadilan lalu meminta hukum untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia.

Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya membungkam orang dan organisasi yang secara tegas menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan? Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam bersatu dan Indonesia bercerai-berai. Mereka ingin putera-puteri negeri Muslim terbesar ini porak-poranda baik dari segi akhlak, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, dan bahkan sistem pemerintahannya.

Bobroknya Sistem Ekonomi Kapitalisme

Krisis ekonomi saat ini telah membuat para pemimpin dunia disibukkan oleh upaya mencari jalan keluar untuk menghentikan 'pendarahan' akibat kecelakaan fatal ekonomi keuangan mereka. Paket penyelamatan krisi pun telah disiapkan dengan total dana yang tidak tanggung-tanggung sebesar 3,4 triliun dolar AS. Kenyataannya sampai saat ini kondisi ekonomi masih terus memburuk. Indeks harga saham di bursa dunia terus terpuruk. Nilai mata uang di pasar uang terus bergejolak. Saluran dana untuk kredit ke sektor industri, infrastuktur dan perdagangan mulai macet. Proses produksi mandek. Dua puluh juta pekerja di seluruh dunia terancam di PHK.

Krisis ekonomi dunia saat ini bukanlah yang pertama maupun yang terakhir. Boleh dikatakan, sejarah ekonomi Kapitalisme adalah sejarah krisis. Roy Davies dan Glyn Davies (1996), dalam buku The History of Money From Anciont time to Present Day, menguraikan sejarah kronologi krisis ekonomi dunia secara menyeluruh. Menurut keduanya, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih dari 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Ini berarti, rata-rata setiap tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Adapun penyebab kegagalan sistem ekonomi Kapitalisme diantaranya disebabkan karena riba yang dijadikan sebagai fondasi ekonomi, sistem moneter yang tidak disandarkan pada emas dan perak, menitikberatkan sistem ekonomi pada sektor non riil, dan kebebasan hak milik.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang memandang bahwa riba adalah suatu keharaman, menetapkan emas dan perak sebagai standar mata uang dalam sistem ekonomi sehingga mata uang kertas negara manapun tidak akan bisa didominasi oleh mata uang negara lain selain itu nilai intrinsik uang tersebut akan tetap, Islam juga mengharamkan pemindahtanganan kertas berharga, obligasi dan saham-saham yang dihasilkan dari akad-akad yang bathil (salah). Transaksi saham seperti itu merupakan sebuah bentuk penipuan karena kita hanya memperjualbelikan kertas-kertas "tidak berharga" tanpa melihat barang-barang yang diperjualbelikan (non riil). Dalam Islam pun sistem kepemilikan diatur dengan sempurna. Kepemilikan harta kekayaan ini dibagi menjadi 3 yaitu: Kepemilikan individu, Kepemilikan umum, dan Kepemilikan Negara. Dimana kita tidak memiliki hak untuk memprjualbelikan barang yang bukan merupakan milik kita (individu).

Pluralisme ala Barat

Menjelang tutup tahun 2007, setidaknya ada 2 peristiwa keagamaan yang cukup menarik untuk kita cermati.


Pertama : Mencuatnya kembali kasus Ahmadiyah, yaitu penyerangan oleh sekelompok orang terhadap para pengikut Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Jalaksana, Kabupaten Kuningan, 18 Desember 2007. Sejumlah aktivis HAM dan kalangan Liberal menuding bahwa biang keladi aksi kekerasan ini adalah MUI. Mereka menyalahkan fatwa MUI yang telah menetapkan Ahmadiyah sbg aliran sesat, padahal pelaku penyerangan tsb masih misterius.
 

Kedua : Peristiwa Perayaan Natal Bersama (PNB). Hampir semua kementrian/departemen Pemerintahan serentak mengadakan PNB. Menariknya, sebagian besar undangan, mulai dari menteri hingga staf adalah Muslim. Ini baru terjadi kali ini!!! Apakah mereka tidak tahu bahwa ini telah melanggar syariat Islam. Dalam Islam toleransi memang ada tapi tidak dalam hal AQIDAH.


Jika dicermati, mencuatnya kembali kasus Ahmadiyah dan munculnya fenomena Perayaan Natal Bersama (PNB) sama-sama dilandasi oleh paham PLURALISME. Pluralisme adalah anak dari demokrasi yang menjamin kebebasan beragama. Namun, faktanya justru mentoleransi kebebasan untuk menodai agama. Buktinya Ahmadiyah yang telah lama difatwakan sesat oleh MUI tetap dibela. Sebaliknya, fatwa MUI dikecam oleh para aktivis HAM dan kaum Liberal, sebuah sikap yang bertentangan dengan ajaran demokrasi itu sendiri yang katanya menjamin kebebasan berpendapat. Hal serupa terjadi pada tahun 2005 lalu, mereka juga menggugat MUI sesat setelah MUI mengeluarkan fatwa tentang sesatnya paham sekularisme, liberalisme dan pluralisme.
 

Buruknya Paham Pluralisme

   
Benar, bahwa ada keanekaragaman keyakinan, kepercayaan atau agama. Ini adalah kenyataan dan Sunatullah. Inilah yang disebut pluralitas. Namun, jika kemudian dikembangkan paham bahwa semua agama benar, tidak boleh ada monopoli kaum kebenaran, jikalau begitu tidak mengapa merayakan Perayaan Natal Bersama atas nama toleransi,dll ;semua itu jelas sebuah penyesatan. Inilah paham pluralisme yang sengaja didesakkan ke dalam tubuh kaum Muslim untuk merusak aqidah mereka.


    Ada yang patut kita waspadai dari paham pluralisme ini, diantaranya ;

Pertama: Secara Normatif pluralisme ini bertentangan dengan aqidah Islam. Sebab, pluralisme menyatakan bahwa semua agama benar. Sebaliknya menurut Islam, hanya Islam yang membawa kebenaran [QS. Ali Imran (3) : 9] ; agama selain Islam tidak akan diterima oleh Allah SWT [QS. Ali Imran (3) : 85]
 

Kedua : Secara Historis paham pluralisme bukanlah dari umat Islam, namun dari orang-orang Barat sekuler yang mengalami trauma konflik dan perang antara Katolik dan Protestan, juga Ortodok. Semula diyakini bahwa tak ada keselamatan di luar Gereja, lalu keyakinan itu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja berada di luar Gereja (Agama Katolik/Protestan). Jadi, paham pluralisme tidak mengakar dalam sejarah Islam.
 

Ketiga : Secara Politis pluralisme agama dilancarkan di tengah dominasi Kapitalisme yang Kristen atas Dunia Islam. Maka patut dicurigai. Andai tujuan pluralisme adalah demi menjunjung tinggi HAM, mencegah konflik dan kekerasan, menjaga perdamaian dunia dll, maka perlu disadari :
  1. Menurut  Amnesti Internasional, Amerika Serikat adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Terbukti, Maret 2003 ketika AS menginvasi Irak, sudah 100.000 jiwa umat Islam yang dibunuh oleh AS.
  2. Konflik dan kekerasan juga sering terjadi karena faktor politik, bukan karena motif agama. Misal : Di Irak, AS sengaja menyulut konflik Sunny-Syiah dalam rangka melemahkan posisi umat Islam di sana. Tujuannya jelas untuk memecah belah Irak agar mudah dikuasai.
    Jadi, mengapa tidak AS saja yang dijadikan sasaran paham pluralisme. Kenapa harus kaum Muslim yang diusik ketenangannya dalam beraqidah??
    Barat sangat memahami bahwa aqidah merupakan kunci vitalitas sebagai ruh kebangkitan umat Islam. Apabila aqidah umat Islam bangkit maka ini akan menjadi ancaman bagi hegemoni Barat. Namun demikian, kita tentu meyakini firman Allah SWT berikut:
        "Orang-orang kafir membuat makar. Allah pun membalas mereka itu. Allah adalah sebaik-baiknya pembuat makar." [QS. Ali Imran (3) :54]
                
Wallahu a'lam bi ash - shawab.

Dibalik Isu Aliran Sesat

Beberapa minggu terakhir ini masyarakat tengah disibukan oleh isu-isu mengenai aliran sesat. Semakin hari semakin banyak kisah-kisah yang terkuak. Modus yang diangkat umumnya mengenai pengakuan adanya Nabi/Rasul setelah Nabi Muhammad SAW misalnya saja Ahmadiyah yang mengimani Mirza Ghulam Ahmad sebagai Rasul, kelompok Lia Eden yang mengaku mendapat wahyu dari Malaikat Jibril dan kini kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang meyakini Nabi Muhammad SAW telah berakhir masa tugasnya. Ahmad Mushadeq (pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah) mengaku bahwa dirinya "Rasul Al-Masih Al-Mau'ud". Mereka meyakini bahwa Al-Quran sekarang tinggal tulisannya saja sedangkan ruhnya sudah hilang. Hal-hal tsb jelas menyimpang dari aqidah Islam.

Lalu mengapa isu-isu ini bisa muncul kepermukaan? Ada beberapa hal yang menarik untuk direnungkan. Pertama: Aliran-aliran sesat ini bisa memunculkan sikap saling curiga terhadap sesama kaum Muslim atau kelompok Islam.
Kedua : Adanya propokasi. Apabila pemerintah dan ulama tak sigap & bijaksana bisa jadi akan terjadi bentrok fisik antar sesama Muslim.
Ketiga : Adanya upaya stigmatisasi (cap negatif) istilah. Misalnya saja kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang berarti kepemimpinan Islam, ini merupakan istilah yang baik. Dengan munculnya kelompok dengan nama tsb jelas akan menjauhkan kaum Muslim dari kepemimpinan Islam yang menerapkan Islam.
Keempat : Diantara ajaran yang dianut oleh kelompok Al-Qiyadah adalah mendirikan Negara Islam & mendirikan Khilafah ala mereka. Pertanyaannya, apa mungkin kelompok yang tidak mengakui Nabi Muhammad SAw sebagai Nabi & Rasul terakhir dan menyatakan shalat tidak wajib, mampu memperjuangkan hukum Islam & Khilafah yang sesuai hukum syariah???
Kelima : Adanya skenario untuk menghancurkan umat Islam di Indonesia, mengadu domba umat Islam, dan menjauhkan umat dari para pejuang Islam. Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, "MUI sudah melakukan survei, ternyata aliran sesat yang akhir-akhir ini cukup marak itu merupakan skenario asing".

Maka dari itu, umat Islam kini harus lebih waspada pada isu-isu disekitar kita. Umat Islam-khususnya di Indonesia-kini sedang terus dihancurkan, baik masalah sosial maupun perekonomiannya. Isu War on Terrorism yang diusung musuh-musuh Islam tidak mampu menggoyahkan upaya penerapan Islam, kini isu aliran sesat digulirkan untuk tujuan yang sama.